Berita terbaru dari ICM
Berita terbaru dari ICM

Setiap perjalanan memiliki waktunya sendiri untuk berkembang, dibentuk oleh berbagai momen pembelajaran, ketidakpastian, dan ketekunan. Audya Tyas Regita, yang akrab disapa Gita, merupakan alumni ICM Angkatan 2 (Devastra) yang mencerminkan perjalanan tersebut, sebuah perjalanan yang tidak sepenuhnya direncanakan, namun pada akhirnya penuh makna. Saat ini, ia berprofesi sebagai dokter gigi di Damessa Dental Clinic dan Audy Dental, membawa nilai-nilai serta pengalaman yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di ICM.
Selama bersekolah di ICM, justru momen-momen sederhana yang meninggalkan kesan paling mendalam baginya. Rutinitas kehidupan asrama seperti terburu-buru menuju kamar mandi di pagi hari atau bergegas ke resto sebelum tutup terasa melelahkan pada saat itu, tetapi kini menjadi kenangan yang selalu dikenangnya dengan hangat. Dari berbagai pengalaman yang ia jalani, salah satu yang paling berkesan adalah Tzorfas.
Angkatannya merupakan angkatan pertama yang menggagas program tersebut, menjadikannya sebuah tonggak penting dalam perjalanan mereka. Gita masih mengingat malam-malam panjang yang dihabiskan bersama teman-temannya di masjid untuk berdiskusi dan merancang konsep acara, bahkan hingga menentukan namanya. Sebagai koordinator acara sekaligus pembawa acara (MC), ia belajar mengelola berbagai tanggung jawab di bawah tekanan. Pengalaman tersebut berperan besar dalam membentuk kemampuan komunikasi, adaptasi, dan kerja samanya, keterampilan yang hingga kini terus mendukungnya dalam dunia profesional. Selain berbagai kegiatan dan program yang dijalani, ICM juga menanamkan kebiasaan-kebiasaan positif yang masih ia pertahankan hingga saat ini, salah satunya adalah kedisiplinan dalam menjaga kerapian dan keteraturan lingkungan pribadi.
Selama masa sekolah, Gita juga aktif mengikuti berbagai kompetisi. Ia berhasil meraih Juara 2 dalam lomba tari Saman serta berpartisipasi dalam kompetisi baca puisi. Dedikasinya terus berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi, di mana ia memperoleh penghargaan Best Paper Student pada International Dental Scientific Exhibition tahun 2019, sebuah pencapaian yang mencerminkan komitmennya dalam bidang akademik.
Menariknya, menjadi seorang dokter gigi bukanlah bagian dari rencana awalnya. Setelah lulus dari ICM, ia diterima di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Kabar tersebut menjadi kejutan, tidak hanya bagi orang-orang di sekitarnya, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Sebagai bagian dari Angkatan 2, dengan jumlah siswa yang diterima melalui jalur tersebut masih sangat terbatas, hal itu terasa hampir mustahil. Namun, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan dapat datang dari arah yang tidak pernah diduga.
Tantangan terbesar muncul saat ia memasuki masa pendidikan profesi klinik di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran. Perjalanannya tiba-tiba terhenti akibat pandemi COVID-19. Setelah hanya beberapa bulan menjalani praktik klinik, rumah sakit tempatnya belajar harus menerapkan lockdown, sehingga ia terpaksa menghentikan sementara pendidikan kliniknya selama kurang lebih satu setengah tahun. Dibandingkan banyak daerah lain, pembatasan di Bandung berlangsung lebih lama dan menyebabkan proses pendidikannya mengalami penundaan yang cukup signifikan.
Saat ini, Gita menjalani profesinya sebagai dokter gigi di Damessa Dental Clinic dan Audy Dental, di mana setiap hari menghadirkan pengalaman serta tantangan yang berbeda. Ia bertemu dengan pasien dari berbagai latar belakang dengan kebutuhan dan karakter yang beragam. Ada pasien yang kooperatif dan menyenangkan, namun ada pula yang datang dengan rasa cemas, takut, atau bahkan emosi yang kurang stabil. Tidak jarang ia menghadapi pasien anak yang menangis dalam waktu lama sehingga proses perawatan menjadi lebih menantang. Situasi-situasi tersebut menuntut kesabaran, empati, dan kemampuan beradaptasi. Baginya, menjadi dokter gigi bukan hanya tentang merawat kesehatan gigi, tetapi juga tentang memahami manusia dan merespons berbagai emosi yang mereka rasakan.
Sebagai alumni ICM, Gita terus membawa pelajaran yang diperolehnya, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari berbagai pengalaman yang membentuk karakter dan kepribadiannya. Perjalanannya menunjukkan bahwa bahkan jalan yang tidak pernah direncanakan sekalipun dapat mengantarkan seseorang pada tujuan yang bermakna. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka jalan, sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil pun dapat menjadi kenyataan.