Berita & Acara

Berita terbaru dari ICM

Berita & Acara

Berita terbaru dari ICM

Kembali
Insan Cendekia Madani Serpong, Tumbuhkan Gemar Membaca dan Menulis
11 December 2015

Bulan Desember tahun ini sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), Serpong, Tangerang, genap berusia lima tahun. Sejumlah acara diselenggarakan untuk merayakan momen ini. Puncaknya, tasyakuran diadakan di Auditorium ICM, Sabtu (5/12).

 

Di tengah sambutan, salah satu pendiri ICM, Tamsil Linrung, meminta panitia menyediakan meja khusus untuk penyair kondang Indonesia, Taufik Ismail. Ia memang sengaja diundang untuk menyampaikan orasi budaya pada puncak tasyakuran tersebut.

 

Sejumlah panitia tampak membawa naik satu set meja dan kursi. Rupanya meja itu terlalu kecil. Beberapa guru dengan sigap memindahkan makanan dan membawa naik meja kotak di hadapan mereka. "Tidak kita batasi waktu. Bapak bisa bicara sebanyak mungkin. Kalau hari ini tidak cukup, kita lanjutkan lagi nanti karena kami rindu betul suara Bapak," ujar Tamsil disambut tepuk tangan riuh hadirin.

 

Taufik Ismail naik ke panggung sembari menenteng sebuah koper hitam. Ia duduk dan membuka kopernya. Dari dalam koper tersebut, ia letakkan beberapa buku, berbaris rapi di atas meja. Selama 30 menit selanjutnya, ia menyampaikan orasi budayanya di hadapan para siswa, guru, orang tua/wali siswa, serta segenap mana jemen dan tokoh pendiri ICM. Ia juga membacakan tiga buah puisi hasil karyanya.

 

Ada beberapa poin dalam orasi budaya yang disampaikan oleh Taufik Ismail. Ia mengatakan, pendidikan akhlak merupakan salah satu kunci dalam memperbaiki kerusakan moral yang terjadi di Indonesia.

 

Ada tiga pegangan pokok yang harus dipegang dalam pengembangan pendidikan akhlak antara lain pendidikan yang menyuruh pada kebaikan (amar makruf), menolak pada kejahatan dan kemungkaran (nahi mungkar), dan mengajarkan beriman kepada Allah SWT (tu'minunabillah). Taufik juga menekankan pentingnya kegiatan membaca dan menulis dalam pendidikan. Ia mendorong sekolah-sekolah swas ta seperti ICM agar memasukkan kegiatan wajib membaca buku dan wajib menulis karangan dalam kurikulum.

 

"Sebenarnya untuk mengajarkan membaca dan menulis, Bapak Ibu guru sudah tahu, tapi tidak bisa melaksanakan dalam silabus karena terbatas. Itu untuk sekolah negeri. Tapi, untuk sekolah swasta bisa lebih leluasa," ujar penyair yang bergelar Datuk Panji Alam Khalifatullah ini. Tamsil menilai, ICM memang masih lemah dalam mengembangkan wawasan kebudayaan. Oleh karena itu, pada ulang tahun kelimanya, tema ini menjadi salah satu fokus yang menjadi perhatian.

 

Pada tahun ajaran 2015/2016, ICM memperoleh izin dari Kementerian Pendidik an dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk menyelenggarakan satuan pendidikan kerja sama (SPK). Dengan ini, mereka mendapatkan izin untuk mengembangkan kurikulum berdasarkan visi dan misi ICM.

 

Sekolah ini bekerja sama dengan Cambridge Internasional, Apple Education South Asia, Google Education, lembaga pendidikan al-Kautsar (Sukabumi), lembaga pendidikan Diniyah Putri, dan sekolah- sekolah lainnya.

 

Sekolah ini berupaya mengembangkan kurikulum yang memadukan wawasan kebudayaan nasional, internasional, dan Islam. Ia percaya ketiganya dapat disatukan tanpa perlu mempertentangkan satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Kebudayaan nasional dikembangkan dengan mengacu pada kurikulum nasional.

 

Untuk mendesain kurikulum yang sesuai standar internasional, ICM menggandeng Cambridge International. Sekolah ini juga mengembangkan kurikulum sendiri untuk memasukkan nilai-nilai budaya Islam. Mereka menyebutnya prophetic curriculum.

 

Sebagai imbas positif SPK, ICM juga dapat mengembangkan kurikulum yang mengakomodasi keunikan siswa. Artinya, kata Tamsil, siswa berhak menyalurkan potensi yang mereka miliki melalui berbagai kegiatan yang ada di sekolah. Salah satu kegiatan yang dikembangkan, yaitu membaca dan menulis. Di ICM, kegiatan ini tak hanya ditujukan bagi siswa, tapi juga masyarakat sekitar. ICM juga berkomitmen untuk menerapkan wajib membaca buku. Salah satu buku yang wajib dibaca ialah Sentuhan Jiwa untuk Anak Kita karya Muhammad Badri.

 

"Ada kemudian buku-buku sastra. Mungkin satu yang kita minta dari Pak Tau fi k, Perang dan Damai (karya Leo Tolstoy), lalu Kalah dan Menang (karya Sutan Takdir Alisjahbana)," ujar Tamsil. Pengajar ekstrakurikuler jurnalistik, Jusman Dalle, mengatakan, program lite rasi di ICM dimulai dari kegiatan menulis. Dengan menulis, para siswa diharapkan akan terpacu untuk membaca. Ia mengklaim perkembangan kegiatan menulis siswa sangat pesat.

 

Dua siswa ICM telah menerbitkan karya tulis mereka dan akan disusul peluncuran karya lain pada Februari tahun mendatang. Tulisan-tulisan siswa juga dapat dibaca dalam buletin internal mereka. "Jadi, dari sekolah hanya menyiapkan sarana," ujar pria yang juga didapuk menjadi ketua panitia milad kelima ICM ini.

 

Siswa kelas XI SMA ICM, Fathiyatus Syafi gah, telah menerbitkan buku berjudul Breaking the Limit. Ia mengaku telah menyukai kegiatan menulis sejak di bang ku sekolah dasar. Kegiatan ini terus ia kembangkan di ICM melalui ekstrakurikuler jurnalistik. Fathi mengatakan, ada juga ekstrakurikuler lain yang mengajarkan siswa untuk gemar menulis, seperti sinematografi dan broadcasting.

 

Perpustakaan ICM juga menjadi wadah pengembangan kegiatan membaca dan menulis siswa. Fathi mengatakan, pengelola perpustakaan ICM sering kali mengadakan acara-acara yang menyedot animo siswa. "Jadi, (kami) ke perpustakaan bukan hanya pinjam buku, melainkan juga ikut acaraacara perpustakaan," ujar dia.

 

Acara milad kelima ICM sendiri meng ambil tema ICM Untukmu Negeri. Jusman mengatakan, dengan tema ini, ICM berharap terus dapat memberikan karya terbaik untuk bangsa Indonesia. Mereka juga ingin berpartisipasi aktif baik dalam kegiatan intelektual maupun sosial masyarakat.

 

Acara ini diramaikan dengan serangkaian kegiatan, yaitu lomba seni, olahraga, dan kebudayaan, seminar parenting, seminar pendidikan Islam, dan bakti sosial. Rangkaian lomba diadakan oleh OSIS SMP dan SMA ICM diikuti tak kurang dari 100 sekolah di Jakarta dan Banten.

 

Kegiatan bakti sosial diikuti tak kurang dari 200 pasien. ICM juga menyelenggarakan kegiatan jalan seha untuk internal. Tanggal 12 dan 19 November nanti, ICM juga akan menyelenggarakan pameran karya lukis siswa SD ICM. Karyakarya tersebut akan dilelang dan hasilnya akan disumbangkan ke panti asuhan.

 

Artikel ini telah tayang di Republika

Pergi ke artikel asli.

Publikasi Lainnya
Ambil Langkah Pertama Menuju Kesuksesan
Beranda Kontak Pendaftaran Tentang Kami Visi & Misi Pimpinan Alumni Karir Program Program Pendidikan Anak Usia Dini Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Atas Jelajahi Fasilitas Ekstrakurikuler Kehidupan Islami Kehidupan Sekolah Prestasi Tur Virtual Berita & Acara Acara Berita Liputan
Unduh Brosur